Showing posts with label balita. Show all posts
Showing posts with label balita. Show all posts

Sunday, May 20, 2012

Penyakit Flu Perut pada Balita

Gastroenteritis

("Flu Perut")

Definisi Viral Gastroenteritis

Gastroenteritis berarti peradangan dari lambung dan usus kecil dan usus besar. Viral gastroenteritis adalah infeksi yang disebabkan oleh keragaman dari virus-virus yang berakibat pada muntah atau diare atau kedua-duanya. Ia seringkali disebut "flu perut," meskipun ia tidak disebabkan oleh viris-virus influenza.

Penyebab Viral Gastroenteritis

Banyak virus-virus yang berbeda dapat menyebabkan gastroenteritis, termasuk rotaviruses, noroviruses, adenoviruses, tipe 40 atau 41, sapoviruses, dan astroviruses. Viral gastroenteritis tidak disebabkan oleh bakteri-bakteri (seperti Salmonella atau Escherichia coli) atau parasit-parasit (seperti Giardia), atau oleh obat-obat atau kondisi-kondisi medis lain, meskipun gejala-gejalanya mungkin serupa. Dokter anda dapat menentukan apakah diare disebabkan oleh virus atau oleh sesuatu yang lain.

Gejala-Gejala Viral Gastroenteritis

Gejala-gejala utama dari viral gastroenteritis adalah diare yang berair dan muntah meskipun satu atau gejala lain mungkin mendominasi. Orang yang terpengaruh mungkin juga mempunyai sakit kepala, demam, dan kejang-kejang perut ("sakit perut"). Pada umumnya, gejala-gejala mulai 1 sampai 2 hari setelah infeksi dengan virus yang menyebabkan gastroenteritis dan mungkin berlangsung untuk 1 sampai 10 hari, tergantung pada virus mana yang menyebabkan penyakit; bagaimanapun, kebanyakan episode-episode berlangsung dari 1-3 hari.

Apakah Viral Gastroenteritis Penyakit Yang Serius ?

Untuk kebanyakan orang-orang, ia adalah tidak. Orang-orang yang mendapat viral gastroenteritis hampir selalu sembuh sepenuhnya tanpa segala persoalan-persoalan jangka panjang. Gastroenteritis adalah penyakit yang serius, bagaimanapun, untuk orang-orang yang tidak mampu untuk meminum cairan-cairan yang cukup untuk menggantikan apa yang telah mereka hilangkan melalui muntah atau diare. Bayi-bayi, anak-anak muda, dan orang-orang yang tidak mampu untuk merawat diri mereka sendiri, seperti yang cacat atau kaum tua, berisiko untuk dehidrasi dari kehilangan cairan-cairan. Orang-orang yang imunnya dikompromikan berisiko untuk dehidrasi karena mereka mungkin mendapatkan penyakit yang lebih serius, dengan muntah atau diare yang lebih besar. Mereka mngkin perlu diopname di rumah sakit untuk perawatan untuk mengkoreksi atau mencegah dehidrasi.

Apakah Penyakit Menular ? Bagaimana Virus-Virus Ini Menyebar ?

Ya, viral gastroenteritis adalah menular. Perjangkitan (dimana banyak orang-orang yang terpengaruh) terjadi terutama dari memakan atau meminum makanan-makanan atau minuman-minuman yang tercemar. Virus-virus yang menyebabkan gastroenteritis juga disebar melalui kontak yang dekat dengan orang-orang yang terinfeksi melalui pencemaran dengan feces atau muntahan (vomitus).

Makanan Tercemar Oleh Virus-Virus Gastroenteritis

Makanan mungkin tercemar oleh penyiap-penyiap atau pedagang-pedagang makanan yang mempunyai viral gastroenteritis, terutama jika mereka tidak mencuci tangan-tangan mereka secara teratur setelah menggunakan toilet. Kerang-kerangan mungkin tercemar oleh limbah, dan orang-orang yang memakan kerang-kerang yang mentah atau tidak dimasak dengan matang yang dipanen dari perairan yang tercemar mungkin mendapat diare. Air minum dapat juga tercemar oleh limbah dan menjadi sumber penyebaran dari virus-virus ini.

Dimana Dan Kapan Viral Gastroenteritis terjadi ?

Viral gastroenteritis mempengaruhi orang-orang diseluruh bagian dunia. Setiap virus mempunyai aktivitas musimannya sendiri. Contohnya, di Amerika, infeksi-infeksi rotavirus dan astrovirus terjadi selama bulan-bulan yang dingin (Oktober sampai April), dimana infeksi-infeksi adenovirus terjadi sepanjang tahun. Perjangkitan Norovirus dapat terjadi pada setting-seting institusi, seperti sekolah-sekolah, fasilitas-fasilitas perawatan anak, dan rumah-rumah asuhan, dan dapat terjadi pada setting-setting kelompok lain, seperti banquet halls, kapal-kapal pesiar, asrama-asrama, dan tempat-tempat camping. Meskipun gastroenteritis terjadi sebagai perjangkitan diantara kelompok-kelompok yang mempunyai sumber yang umum, contohnya, diatas kapal-kapal pesiar, ia juga mungkin terjadi secara sporadis pada individu-individu.

Siapa Yang Mendapat Viral Gastroenteritis ?

Siapa saja dapat memperolehnya. Viral gastroenteritis terjadi pada orang-orang dari segala umur dan latar belakang. Bagaimanapun, beberapa virus-virus cenderung menyebabkan penyakit diare terutama diantara orang-orang dalam kelompok-kelompok umur yang spesifik. Infeksi rotavirus adalah penyebab yang paling umum dari diare pada bayi-bayi dan anak-anak muda dibawah umur 5 tahun. Adenoviruses dan astroviruses menyebabkan diare kebanyakan pada anak-anak muda, namun anak-anak yang lebih tua dan kaum dewasa dapat juga dipengaruhi. Norwalk dan Noroviruses adalah lebih mungkin menyebabkan diare pada anak-anak yang lebih tua dan kaum dewasa.

Mendiagnosa Viral Gastroenteritis

Umumnya, viral gastroenteritis didiagnosa oleh dokter pada basis dari gejala-gejala dan pemeriksaan medis pasien. Infeksi rotavirus dapat didiagnosa dengan pengujian laboratorium dari contoh feces. Tes-tes untuk mendeteksi virus-virus lain yang menyebabkan gastroenteritis tidak ada dalam penggunaan yang rutin, namun unit viral gastroenteritis di CDC dapat membantu dengan analisa khusus jika diminta.

Merawat Viral Gastroenteritis

Yang paling penting dari perawatan viral gastroenteritis pada anak-anak dan kaum dewasa adalah untuk mencegah kehilangan cairan-cairan yang parah (dehidrasi). Perawatan ini harus mulai di rumah. Dokter anda mungkin memberikan anda instruksi-instruksi spesifik tentang jenis-jenis cairan yang diberikan. CDC merekomendasikan bahwa keluarga-keluarga dengan bayi-bayi dan anak-anak kecil menyimpan suplai dari oral rehydration solution (ORS) di rumah di segala waktu dan menggunakan larutan ketika diare pertama kali terjadi pada anak. ORS tersedia di apotek-apotek tanpa resep. Ikuti petunjuk-petunjuk yang ditulis pada bungkusan ORS, dan gunakan air yang bersih atau yang telah dimasak. Obat-obat, termasuk antibiotik-antibiotik (yang tidak mempunyai efek pada virus-virus) dan perawatan-perawatan lain, harus dihindari kecuali direkomendasikan secara spesifik oleh dokter.

Mencegah Viral Gastroenteritis

Orang-orang dapat mengurangi kesempatan mereka mendapatkan infeksi dengan mencuci tangan yang sering, segera disinfeksi (menyuci hama) dari permukaan-permukaan yang tercemar dengan pembersih-pembersih khlorin rumah tangga berbasis pemutih, dan segera mencuci pakaian-pakaian kotor. Jika makanan atau air diperkirakan tercemar, ia harus dihindari. Kekebalan pada noroviruses adalah singkat (berjangka pendek), berlangsung hanya beberapa bulan, sehingga adalah mungkin terinfeksi kembali. Untuk membuat hal-hal menjadi lebih rumit, bagaimanapun, beberapa individu-individu agaknya kebal karena tingkat-tingkat yang tinggi dari antibodi-antibodi pada norovirus mungkin masih peka pada infeksi. Karena ada banyak strain-strain dari noroviruses dan kekebalan adalah spesifik untuk setiap strain, adalah mungkin untuk mempunyai episode dari gastroenteritis segera setelah yang lainnya jika strain-strain yang menginfeksi adalah berbeda; bagaimanapun, ini kemungkinan terjadinya jarang. Secara keseluruhan, status dari kekebalan pada virus-virus yang menyebabkan gastroenteritis - terutama ketika ia berhubungan dengan kepekaan pada infeksi - adalah tidak sempurna.

Vaksin Untuk Viral Gastroenteritis

Sekarang ini ada tersedia vaksin rotavirus yang berlisensi yang melindungi terhadap diare yang parah dari infeksi rotavirus pada bayi-bayi dan anak-anak kecil. Studi-studi dalam vaksin norovirus sedang dikerjakan.


Source :
http://www.totalkesehatananda.com/gastroenteritis1.html dan http://www.totalkesehatananda.com/gastroenteritis2.html

Apa itu penyakit Flu Singapura?

Flu Singapura sebenarnya adalah penyakit yang didunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM )
HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease ) ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae, Genus Enterovirus ( non Polio ). Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus.

HFMD yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71. Berbagai enterovirus dapat menyebabkan berbagai penyakit.
Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas.HFMD adalah penyakit umum pada kelompok masyarakat dengan populasi yang tinggi dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun ( kadang sampai 10 tahun ).

Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur (oro-oro), tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa seperti lalat dan kecoa.

Gambaran klinis dari penyakit ini mula-mula demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti sakit leher (pharingitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti ?flu? pada umumnya yang tidak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus dumulut seperti sariawan ( lidah, gusi, pipi sebelah dalam ) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan.

Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki. Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada dibokong. Penyakit ini membaik sendiri dalam 7-10 hari. Bila ada muntah, diare atau dehidrasi dan lemah atau komplikasi lain maka penderita tersebut harus dirawat.

Tuesday, December 21, 2010

8 Tips Aman Naik Pesawat Bersama Bayi

Perjalanan jauh membawa si kecil (bayi) sebaiknya dihindari jika hal itu tidak terlalu penting. KarenA tubuh si Bayi masi rentan terhadap kuman dan masih belum bisa menyesuaikan diri secara sempurna terhadap kondisi lingkungan sekitar. Tetapi jika perjalanan jauh tidak dapat dihindari, maka ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar tetap nyaman selama melakukan perjalanan bersama si kecil.


1. Pesan satu tempat duduk tambahan buat si kecil
Hal ini terutama jika bayi anda sudah cukup besar karena sangat tidak dianjurkan memangku bayi saat naik pesawat. Selain itu gunakan car seat untuk keamanan buah hati anda.

2. Jika waktu penerbangan cukup lama, bawa mainan atau benda kesukaan si kecil agar ia tetap tenang di tempat duduknya.

3. Lengkapi bayi dengan cadangan oksigen. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya sesak napas yang biasanya terjadi di lingkungan dengan kadar oksigen rendah seperti di kabin pesawat.

4. Berikan susu atau dot atau susui si kecil jika pesawat sedang take off dan mendarat untuk mengurangi rasa sakit di telinga akibat perubahan tekanan udara secara mendadak.


5. Jika rewel, gendong bayi posisi berdiri menghadap belakang.

6. Perhatikan usia si kecil. Anda boleh membawa si kecil jika usianya lebih dari 3 bulan. Jangan melakukan perjalanan dengan si kecil dengan pesawat bila usianya kurang dari 6 minggu. Hal ini karena pada usia tersebut bayi masih rentan terhadap bakteri terutama di ruangan yang tertutup seperti kabin pesawat.

7. Tidak terburu-buru keluar pesawat untuk menghindari desakan.

8. Jangan lupa baca doa ketika naik pesawat.

Friday, August 6, 2010

5 Imunisasi Dasar untuk Bayi


Imunisasi adalah upaya memberikan kekebalan aktif kepada seseorang dengan cara memberikan vaksin. dengan imunisasi, seseorang akan memiliki kekebalan terhadap penyakit. sebaliknya, bila tidak, akan mudah terkena penyakit infeksi berbahaya.

Vaksin adalah produk biologis yang berasal dari virus, atau bakteri penyakit yang telah dilemahkan/dimatikan atau rekombinan, yang digunakan untuk menangkal penyakit. kehadiran vaksin dalam tubuh manusia akan mendorong reaksi perlawanan terhadap virus atau bakteri dari penyakit yang bersangkutan.

Pada dasarnya semua orang perlu diimunisasi, terutama orang2 yang berisiko tinggi terkena penyakit, seperti: bayi, anak usia balita, anak sekolah, wanita hamil, wanita usia subur (WUS). ada 2 cara melakukan imunisasi yaitu, oral dan penyuntikan.

Pemberian imunisasi yang terbaik adalah pemberian yang tepat jadual. bila tidak, perlindungan terhadap penyakit yang ingin ditangkal, menjadi tidak optimal.boleh ditunda, bila kondisi anak sedang sakit. Bila anak sudah sehat segera lengkapi imunisasinya.


Nah, Kelima jenis imunisasi yang harus diperoleh anak, yaitu:
1. BCG diberikan 1 kali (pada usia 1 bulan)
2. DPT diberikan 3 kali (pada usia 2,3,dan 4 bulan)
3. Polio diberikan 4 kali (pada usia 1,2,3, dan 4 bulan)
4. Campak diberikan 1 kali (pada usia 9 bulan)
5. Hepatitis B diberikan 1 kali (pada usia 0-7 hari)

Apa yang dimaksud dengan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI)?
KIPI adalah kejadian sakit yang mungkin timbul setelah imunisasi. Kejadian ini umumnya terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi.
1. BCG = Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan. Setelah 2-3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil yang menjadi luka dengan garis tengah sekitar 10 mm. Jangan diberi obat apapun, dan biarkan luka tetap terbuka. Luka tersebut akan sembuh dengan sendirinya dan meninggalkan parut yang kecil.

2. DPT = Kadang2 bayi menderita panas setelah mendapat vaksin ini. Tetapi panas ini umumnya akan sembuh dalam 1-2 hari. Sebagian bayi merasa nyeri, sakit, merah atau bengkak di tempat suntikan. sedangkan sebagian bayi lainnya tidak. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu pengobatan, akan sembuh sendiri.

3. Polio = Tidak ada efek samping

4. Campak = anak mungkin panas pada hari ke 5-12 sesudah suntikan. Kadang2 disertai kemerahan pada kulit seperti campak. Hal ini adalah gejala penyakit campak ringan dan umumnya setelah 1-2 hari akan hilang.

5. Hepatitis B = Tidak ada efek samping

apa yang perlu disampaikan kepada ibu yang anaknya demam setelah diimunisasi?
1. Lebih sering meneteki (ASI) dari biasanya, untuk menjamin bayi/anak menerima cukup zat cair. Jika bayi berusia lebih dari 6 bulan boleh diberi tambahan air minum.
2. Memberikan obat penurun panas dengan dosis sesuai anjuran dokter.
3. Mengompres dahi bayi dengan menggunakan kain yang dibasahi air hangat.
4. Membawa bayi ke dokter atau layanan kesehatan jika demam berlanjut.

Semoga artikel ini bisa membantu anda.


Source : http://anurannisa.wordpress.com/2009/03/30/5-imunisasi-dasar-lengkap/

Wednesday, July 7, 2010

Tips memilih Susu Formula untuk Bayi (Inget!!! ASI tetap the BEST)


Bila karena alasan tertentu bayi tak bisa mendapatkan ASI, maka susu formula memang tepat dijadikan penggantinya. Namun, susu ini tak bisa disamakan dengan ASI karena tak ada satu pun susu formula yang kandungan gizinya dapat menyamai ASI. Terutama karena protein hasil olahan tubuh ibu sama sekali berbeda dari protein olahan tubuh sapi.


Selewat usia bayi, susu formula bukan lagi merupakan pengganti ASI tetapi suplemen atau pelengkap makanan yang berfungsi membantu pertumbuhan anak. Yang perlu dipahami, kebutuhan zat gizi masing-masing golongan usia anak adalah berbeda. Ada golongan usia 0-1 tahun, 1-3 tahun, 3-5 tahun dan 6 tahun ke atas. Di pasaran, penggolongan susu formula berdasar usia seharusnya mempermudah orang tua dalam memilihkan susu untuk buah hatinya. Namun kenyataannya, penggolongan ini sering justru membingungkan, bukan? Nah, sebelum tersesat, baca dulu panduannya berikut ini.



BEBERAPA YANG MESTI DIPERHATIKAN

* Faktor Usia
Klasifikasi susu berdasar usia tentu bukan tanpa alasan. Susu formula untuk bayi saja dibedakan menjadi dua, yaitu:
- susu formula awal untuk bayi usia 0-6 bulan
- susu formula lanjutan untuk bayi usia 6-12 bulan.

Mengapa perlu dibedakan? Karena kandungan susu dalam masing-masing penggolongan tersebut disesuaikan dengan kemampuan organ pencernaan bayi. Bayi usia 6 bulan ke bawah tentu sistem pencernaannya belumlah sesempurna sistem pencernaan bayi usia 6 bulan ke atas.

* Reaksi Cocok atau Tidaknya
Bahan dasar susu formula yang tidak sama dengan ASI kadang menimbulkan masalah tertentu, di antaranya:
- Sembelit atau susah buang air besar akibat adanya kandungan protein "rumput" sapi (kasein).
- Reaksi alergi seperti kulit jadi kemerah-merahan, gatal-gatal, saluran napas berlendir, dan diare.
- Sering muntah dan kembung
- Berat badan tak kunjung naik atau anak mudah sakit.

Jika si kecil menunjukkan salah satu reaksi tersebut setelah mengonsumsi susu formula, sebaiknya hentikan pemberiannya. Konsultasikan pada dokter anak mengenai kemungkinan mengganti jenis susu formula. Perhatikan juga ada tidaknya reaksi ketika susu formula awal diganti dengan susu formula lanjutan.

Singkatnya, dalam memilih susu formula perhatikan:
- Rasa utamanya agar bayi benar-benar suka.
- Manfaatnya, yaitu terbukti baik untuk tumbuh kembang bayi.
- Kecocokannya, yaitu tidak menimbulkan efek samping seperti alergi, diare, atau sembelit.



* Jenis Susu Formula

Tidak semua susu formula cocok dengan kebutuhan bayi meski sudah dipilih berdasar usia. Beberapa anak tertentu ada yang alergi terhadap susu sapi. Untuk kasus seperti ini biasanya dokter akan menganjurkan untuk menggantinya dengan susu yang terbuat dari kacang kedelai. Kalau susu kedelai pun ternyata menimbulkan masalah, alternatif lainnya adalah susu elemental atau susu formula hidrolisa. Inilah jenis-jenis susu:
a. Susu formula berbahan dasar susu sapi
Dokter akan menyarankan susu jenis lain, semisal susu kedelai bila bayi dinilai sangat peka terhadap kandungan susu sapi.

b. Susu formula berbahan soya atau kedelai
Tak jarang ada juga bayi yang alergi susu sapi sekaligus alergi soya. Bayi yang alergi terhadap kedua sumber protein ini biasanya disarankan mengonsumsi susu alternatif lain, yaitu golongan susu hipoalergenic.

c. Susu formula hidrolisa atau susu elemental
Susu formula jenis ini kandungan lemaknya sudah diperkecil. Selain itu kandungan protein kaseinnya sudah dipecah menjadi asam amino. Jadi, kandungannya bukan lagi protein, melainkan "bangunan" protein yang paling kecil. Biasanya pada kemasannya bertuliskan HA atau hipoalergenic. Susu jenis ini memang khusus untuk bayi yang alergi.
Tentu saja pemberian susu khusus ini harus dengan sepengetahuan dokter. Yang juga perlu diperhatikan adakah indikasi penyakit lain, kandungan apa saja yang harus dihindari dan berapa takaran seharusnya.

* Kandungan Gizi
Sebenarnya, semua susu formula untuk bayi yang beredar di pasaran memiliki kandungan gizi yang sama. Pada prinsipnya semua sudah diupayakan mendekati komposisi ASI dengan kandungan sesuai standar yang ditetapkan WHO sebagai badan kesehatan dunia. Selain itu, kadar kandungan gizinya pun disesuaikan dengan kemampuan pencernaan bayi, tidak boleh lebih tinggi ataupun lebih rendah. Ingat, kebutuhan zat gizi bayi berbeda sesuai kelompok usia.

Kandungan gizi susu formula untuk bayi di bawah 6 bulan lebih spesial, karena secara alami, usus bayi kecil belum mampu mencerna nutrien susu dengan baik. Masih rentannya bayi dalam kelompok usia ini membuat susu yang dikonsumsinya pun dibagi lagi secara spesifik. Di antaranya susu untuk bayi yang lahir cukup bulan, susu untuk bayi yang lahir kurang bulan ataupun yang lahir cukup bulan namun dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Untuk bayi 6 bulan ke bawah yang lahir kurang bulan atau cukup bulan tapi dengan BBLR, komposisi nutriennya diformulasikan lebih rendah dari susu formula untuk bayi enam bulan ke bawah yang cukup bulan. Pembedaan ini dimaksudkan untuk menyesuaikan kondisi bayi yang daya serapnya terhadap nutrien masih belum optimal, terutama ginjalnya.

Adapun susu formula untuk bayi di bawah 6 bulan secara umum digolongkan menjadi dua:
1. Formula adaptasi
Susu formula jenis ini mempunyai kandungan sebagai berikut:
* Lemak
Disarankan mempunyai kadar lemak antara 2,7-41 g setiap 100 ml atau setara 8,5%. Dari jumlah ini, 3-6% kandungan energinya harus terdiri dari asam linoleik.

* Protein
Kadarnya harus berkisar antara 1,2 sampai 1,9 g/100 ml, dengan rasio lakalbumin/kasein kurang lebih 60/40. Karena itu komposisi asam aminonya harus identik dengan protein yang terdapat dalam ASI. Alasannya, hanya protein itulah yang bisa dimanfaatkan bayi.

* Karbohidrat
Disarankan kandunganya antara 5,4 sampai 8,2 g bagi tiap 100 ml. Karbohidratnya dianjurkan terdiri atas laktosa dan selebihnya glukosa atau dekstrin-maltosa. Dalam hal ini tidak dibenarkan menggunakan sumber karbohidrat dari tepung, madu, atau susu yang diasamkan.

* Mineral
Sebagian besar mineral dalam susu sapi adalah natrium, kalium, kalsium, fosfor, magnesium dan klorida. Karena itu komposisinya harus diturunkan sekitar 0,25 sampai 0,34 g tiap 100 ml. Ini dimaksudkan untuk menghindari gangguan keseimbangan air dan dehidrasi hipertonik, selain timbulnya gangguan hipertensi di kemudian hari.

* Vitamin
Harus ditambahkan pada pembuatan susu formula.

* Energi
Harus disesuaikan dengan ASI yang jumlahnya sekitar 72 Kkal.

2. Formula awal lengkap

Sesuai namanya, susu ini memiliki susunan gizi yang lengkap untuk bayi baru lahir. Sekalipun demikian, susu ini sedikit berbeda dari formula adaptasi. Susu formula ini mempunyai kadar protein tinggi karena rasio proteinnya tidak disesuaikan dengan rasio protein yang terkandung dalam ASI. Begitu juga dengan mineral yang lebih tinggi dari susu formula adaptasi. Keuntungan susu formula jenis ini adalah harganya yang jauh lebih murah daripada susu formula adaptasi.

Susu formula untuk bayi 6 bulan ke atas mengandung protein yang lebih tinggi dari susu adaptasi maupun susu awal lengkap. Rasio proteinnya pun tidak mengikuti rasio yang terdapat dalam ASI. Sedangkan kadar beberapa mineral, karbohidrat, lemak dan energinya lebih tinggi. Ini dimaksudkan untuk mengimbangi kebutuhan anak yang sudah semakin aktif dan sedemikian cepat tumbuh kembangnya.

Perbedaan paling nyata dalam kebutuhan zat gizi bayi 6 bulan ke bawah dan 6 bulan ke atas adalah kalorinya. Kalori yang dibutuhkan bayi usia 6 bulan ke bawah per hari hanya sebesar 560 kkl atau lebih, sedangkan bayi usia 6 bulan ke atas adalah 800 kkl per hari atau lebih.

* Kandungan Zat Tambahan
Kemajuan teknologi memungkinkan susu formula yang sudah ada ditingkatkan kualitasnya, yakni dengan diformulasikan sedemikian rupa sehingga makin mirip dengan ASI. Salah satunya adalah penambahan DHA. Penambahan ini dibolehkan karena zat tambahan tersebut merupakan zat-zat mikro. Hanya saja penambahannya pun harus mengikuti standar yang berlaku. Yang tak kalah penting, orang tua harus segera memastikan cocok atau tidaknya si bayi mendapat susu tersebut. Bila ternyata tidak cocok, ya jangan dipaksakan. Asal tahu saja, DHA yang berasal dari ikan berpotensi menyebabkan alergi. Belakangan beberapa produsen susu menggunakan DHA/AA yang bersumber dari bahan nonikan.

* Porsi Pemberian
Banyaknya susu formula yang diberikan kepada bayi tentu saja tergantung pada kebutuhan. Umumnya sampai berusia 3 atau 4 bulan, bayi mendapat susu sekitar 180 ml yang diberikan setiap 2-3 jam. Meski begitu, prinsip on demand juga berlaku dalam pemberian susu formula. Begitu bayi menangis karena lapar meski mungkin belum waktunya, maka berikan saja sesuai keinginannya.

Sementara susu formula lanjutan untuk bayi 6 bulan ke atas bisa diberikan 2 kali sehari masing-masing sebanyak 180-200 ml. Lo, mengapa cuma 2 kali? Di usia ini bayi sudah mendapat makanan setengah padat (bubur susu, nasi tim yang disaring, dan seterusnya). Untuk jadwalnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan individual si bayi.
Usahakan minum susu tidak berbarengan atau berdekatan dengan waktu makan utama. Selain membuat anak jadi enggan makan karena sudah kenyang duluan, penyerapan kalsium pun jadi terganggu. Tenggang waktu ideal minum susu adalah 2-3 jam sebelum atau sesudah waktu makan makanan utama

Dedeh Kurniasih/Gazali Solahuddin. Foto: Iman/nakita
Konsultan Ahli: dr. H. Adi Tagor, Sp.A, DPH dari RS Pondok Indah, Jakarta; Dr. Eva J. Soelaeman, Sp.A(K) dari RSAB Harapan Kita, Jakarta

Source : http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah06305-02.htm