Showing posts with label ASI. Show all posts
Showing posts with label ASI. Show all posts

Wednesday, October 13, 2010

Empeng atau Dot untuk Bayi. Baik atau Buruk?


Dot untuk minum susu dari botol, atau empeng, masih menjadi perdebatan di kalangan orangtua dan ahli kesehatan. Para ahli kesehatan mengatakan empeng tidak baik karena bisa merusak bentuk gigi, tapi kebanyakan orangtua bilang hal itu tak masalah. Apalagi, si bayi suka, dan membuatnya berhenti menangis. Apa pro dan kontra seputar empeng untuk bayi ini?

Pro
* Mengurangi kemungkinan kematian tiba-tiba.
Perkumpulan dokter anak di Amerika, The American Academy of Pediatrics, merekomendasikan orangtua untuk membiarkan anak tertidur di malam atau siang hari sambil mengisap empeng dalam satu tahun pertama kehidupannya. Nampaknya, hal ini merupakan perlindungan yang efektif untuk melawan kemungkinan Sudden Infant Death Syndrome (SIDS), yakni ketika bayi tercekat dan tidak bisa bernapas saat tertidur. Berikan empeng saat ia akan tidur, namun jangan dipasangkan kembali saat ia sudah tertidur.

* Jennifer Shu, MD, pengarang Heading Home with Your Newborn: From Birth to Reality, mengatakan bahwa empeng bisa membantu bayi lebih tenang. Terlebih lagi, empeng juga bisa membantu mengurangi rasa ketidaknyamanan pada bayi yang menangis atau kolik.

* Memuaskan refleks mengisapnya. Beberapa bayi memiliki kebutuhan refleks untuk mengisap lebih banyak dari saat ia mengisap botol atau dari payudara ibu. Untuk bayi-bayi yang butuh bantuan untuk memuaskan refleks mengisap, empeng bisa memenuhi kebutuhan ini.

* Lebih mudah menghentikannya. Ketika Anda yakin sudah saatnya bayi berhenti mengisap empeng, akan lebih mudah menghentikannya untuk ngempeng, ketimbang harus memintanya berhenti mengisap jempol.


Kontra

* Menurut sebuah studi yang dilaporkan pada perkumpulan dokter anak di Amerika, empeng bisa meningkatkan setidaknya 40 persen infeksi telinga (acute otitis media) pada anak. Karena belum jelas alasannya, para peneliti belum bisa memastikan mengapa hal ini terjadi. Ditengarai, karena terjadinya perubahan tekanan di antara telinga bagian tengah dan tenggorokan bagian atas.

Namun, dikabarkan pula bahwa anak-anak yang berhenti menggunakan empeng secara perlahan usai usia 6 bulan, kemungkinan terkena infeksi telinga akan menurun sebanyak sepertiga persen, ketimbang anak sebayanya yang masih mengisap empeng.

* Jika diperkenalkan terlalu cepat, akan ada kemungkinan terjadi kebingungan pada anak antara puting ibu dan empeng. Jika ingin memberikan empeng pada bayi, tunggulah hingga usianya sekitar 1 bulan.

* Ada pula kemungkinan orangtua salah memberikan empeng kepada bayi pada saat ia sebenarnya butuh nutrisi, seperti ASI atau susu dalam botol.
Bayi yang terlalu semangat atau sangat lekat dengan empengnya, kemungkinan akan butuh penyesuaian pada bentuk giginya di masa depan. Tak tertutup kemungkinan pula akan ada kesulitan dalam pengucapan. Untuk bayi yang tak terlalu lekat dengan empengnya, nampaknya tak akan menjadi masalah.

"Empeng memang sangat mempan untuk membuat bayi yang rewel cepat kalem, asalkan digunakan dalam waktu yang singkat, agar tidak merusak giginya" terang Kimberly A. Harms, DDS, dokter gigi dari American Dental Association.

Sumber: kompas
Source : http://seputarduniaanak.blogspot.com/2010/01/empeng-baik-atau-buruk.html

Friday, August 6, 2010

5 Imunisasi Dasar untuk Bayi


Imunisasi adalah upaya memberikan kekebalan aktif kepada seseorang dengan cara memberikan vaksin. dengan imunisasi, seseorang akan memiliki kekebalan terhadap penyakit. sebaliknya, bila tidak, akan mudah terkena penyakit infeksi berbahaya.

Vaksin adalah produk biologis yang berasal dari virus, atau bakteri penyakit yang telah dilemahkan/dimatikan atau rekombinan, yang digunakan untuk menangkal penyakit. kehadiran vaksin dalam tubuh manusia akan mendorong reaksi perlawanan terhadap virus atau bakteri dari penyakit yang bersangkutan.

Pada dasarnya semua orang perlu diimunisasi, terutama orang2 yang berisiko tinggi terkena penyakit, seperti: bayi, anak usia balita, anak sekolah, wanita hamil, wanita usia subur (WUS). ada 2 cara melakukan imunisasi yaitu, oral dan penyuntikan.

Pemberian imunisasi yang terbaik adalah pemberian yang tepat jadual. bila tidak, perlindungan terhadap penyakit yang ingin ditangkal, menjadi tidak optimal.boleh ditunda, bila kondisi anak sedang sakit. Bila anak sudah sehat segera lengkapi imunisasinya.


Nah, Kelima jenis imunisasi yang harus diperoleh anak, yaitu:
1. BCG diberikan 1 kali (pada usia 1 bulan)
2. DPT diberikan 3 kali (pada usia 2,3,dan 4 bulan)
3. Polio diberikan 4 kali (pada usia 1,2,3, dan 4 bulan)
4. Campak diberikan 1 kali (pada usia 9 bulan)
5. Hepatitis B diberikan 1 kali (pada usia 0-7 hari)

Apa yang dimaksud dengan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI)?
KIPI adalah kejadian sakit yang mungkin timbul setelah imunisasi. Kejadian ini umumnya terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi.
1. BCG = Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan. Setelah 2-3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil yang menjadi luka dengan garis tengah sekitar 10 mm. Jangan diberi obat apapun, dan biarkan luka tetap terbuka. Luka tersebut akan sembuh dengan sendirinya dan meninggalkan parut yang kecil.

2. DPT = Kadang2 bayi menderita panas setelah mendapat vaksin ini. Tetapi panas ini umumnya akan sembuh dalam 1-2 hari. Sebagian bayi merasa nyeri, sakit, merah atau bengkak di tempat suntikan. sedangkan sebagian bayi lainnya tidak. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu pengobatan, akan sembuh sendiri.

3. Polio = Tidak ada efek samping

4. Campak = anak mungkin panas pada hari ke 5-12 sesudah suntikan. Kadang2 disertai kemerahan pada kulit seperti campak. Hal ini adalah gejala penyakit campak ringan dan umumnya setelah 1-2 hari akan hilang.

5. Hepatitis B = Tidak ada efek samping

apa yang perlu disampaikan kepada ibu yang anaknya demam setelah diimunisasi?
1. Lebih sering meneteki (ASI) dari biasanya, untuk menjamin bayi/anak menerima cukup zat cair. Jika bayi berusia lebih dari 6 bulan boleh diberi tambahan air minum.
2. Memberikan obat penurun panas dengan dosis sesuai anjuran dokter.
3. Mengompres dahi bayi dengan menggunakan kain yang dibasahi air hangat.
4. Membawa bayi ke dokter atau layanan kesehatan jika demam berlanjut.

Semoga artikel ini bisa membantu anda.


Source : http://anurannisa.wordpress.com/2009/03/30/5-imunisasi-dasar-lengkap/

Wednesday, July 7, 2010

Tips memilih Susu Formula untuk Bayi (Inget!!! ASI tetap the BEST)


Bila karena alasan tertentu bayi tak bisa mendapatkan ASI, maka susu formula memang tepat dijadikan penggantinya. Namun, susu ini tak bisa disamakan dengan ASI karena tak ada satu pun susu formula yang kandungan gizinya dapat menyamai ASI. Terutama karena protein hasil olahan tubuh ibu sama sekali berbeda dari protein olahan tubuh sapi.


Selewat usia bayi, susu formula bukan lagi merupakan pengganti ASI tetapi suplemen atau pelengkap makanan yang berfungsi membantu pertumbuhan anak. Yang perlu dipahami, kebutuhan zat gizi masing-masing golongan usia anak adalah berbeda. Ada golongan usia 0-1 tahun, 1-3 tahun, 3-5 tahun dan 6 tahun ke atas. Di pasaran, penggolongan susu formula berdasar usia seharusnya mempermudah orang tua dalam memilihkan susu untuk buah hatinya. Namun kenyataannya, penggolongan ini sering justru membingungkan, bukan? Nah, sebelum tersesat, baca dulu panduannya berikut ini.



BEBERAPA YANG MESTI DIPERHATIKAN

* Faktor Usia
Klasifikasi susu berdasar usia tentu bukan tanpa alasan. Susu formula untuk bayi saja dibedakan menjadi dua, yaitu:
- susu formula awal untuk bayi usia 0-6 bulan
- susu formula lanjutan untuk bayi usia 6-12 bulan.

Mengapa perlu dibedakan? Karena kandungan susu dalam masing-masing penggolongan tersebut disesuaikan dengan kemampuan organ pencernaan bayi. Bayi usia 6 bulan ke bawah tentu sistem pencernaannya belumlah sesempurna sistem pencernaan bayi usia 6 bulan ke atas.

* Reaksi Cocok atau Tidaknya
Bahan dasar susu formula yang tidak sama dengan ASI kadang menimbulkan masalah tertentu, di antaranya:
- Sembelit atau susah buang air besar akibat adanya kandungan protein "rumput" sapi (kasein).
- Reaksi alergi seperti kulit jadi kemerah-merahan, gatal-gatal, saluran napas berlendir, dan diare.
- Sering muntah dan kembung
- Berat badan tak kunjung naik atau anak mudah sakit.

Jika si kecil menunjukkan salah satu reaksi tersebut setelah mengonsumsi susu formula, sebaiknya hentikan pemberiannya. Konsultasikan pada dokter anak mengenai kemungkinan mengganti jenis susu formula. Perhatikan juga ada tidaknya reaksi ketika susu formula awal diganti dengan susu formula lanjutan.

Singkatnya, dalam memilih susu formula perhatikan:
- Rasa utamanya agar bayi benar-benar suka.
- Manfaatnya, yaitu terbukti baik untuk tumbuh kembang bayi.
- Kecocokannya, yaitu tidak menimbulkan efek samping seperti alergi, diare, atau sembelit.



* Jenis Susu Formula

Tidak semua susu formula cocok dengan kebutuhan bayi meski sudah dipilih berdasar usia. Beberapa anak tertentu ada yang alergi terhadap susu sapi. Untuk kasus seperti ini biasanya dokter akan menganjurkan untuk menggantinya dengan susu yang terbuat dari kacang kedelai. Kalau susu kedelai pun ternyata menimbulkan masalah, alternatif lainnya adalah susu elemental atau susu formula hidrolisa. Inilah jenis-jenis susu:
a. Susu formula berbahan dasar susu sapi
Dokter akan menyarankan susu jenis lain, semisal susu kedelai bila bayi dinilai sangat peka terhadap kandungan susu sapi.

b. Susu formula berbahan soya atau kedelai
Tak jarang ada juga bayi yang alergi susu sapi sekaligus alergi soya. Bayi yang alergi terhadap kedua sumber protein ini biasanya disarankan mengonsumsi susu alternatif lain, yaitu golongan susu hipoalergenic.

c. Susu formula hidrolisa atau susu elemental
Susu formula jenis ini kandungan lemaknya sudah diperkecil. Selain itu kandungan protein kaseinnya sudah dipecah menjadi asam amino. Jadi, kandungannya bukan lagi protein, melainkan "bangunan" protein yang paling kecil. Biasanya pada kemasannya bertuliskan HA atau hipoalergenic. Susu jenis ini memang khusus untuk bayi yang alergi.
Tentu saja pemberian susu khusus ini harus dengan sepengetahuan dokter. Yang juga perlu diperhatikan adakah indikasi penyakit lain, kandungan apa saja yang harus dihindari dan berapa takaran seharusnya.

* Kandungan Gizi
Sebenarnya, semua susu formula untuk bayi yang beredar di pasaran memiliki kandungan gizi yang sama. Pada prinsipnya semua sudah diupayakan mendekati komposisi ASI dengan kandungan sesuai standar yang ditetapkan WHO sebagai badan kesehatan dunia. Selain itu, kadar kandungan gizinya pun disesuaikan dengan kemampuan pencernaan bayi, tidak boleh lebih tinggi ataupun lebih rendah. Ingat, kebutuhan zat gizi bayi berbeda sesuai kelompok usia.

Kandungan gizi susu formula untuk bayi di bawah 6 bulan lebih spesial, karena secara alami, usus bayi kecil belum mampu mencerna nutrien susu dengan baik. Masih rentannya bayi dalam kelompok usia ini membuat susu yang dikonsumsinya pun dibagi lagi secara spesifik. Di antaranya susu untuk bayi yang lahir cukup bulan, susu untuk bayi yang lahir kurang bulan ataupun yang lahir cukup bulan namun dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Untuk bayi 6 bulan ke bawah yang lahir kurang bulan atau cukup bulan tapi dengan BBLR, komposisi nutriennya diformulasikan lebih rendah dari susu formula untuk bayi enam bulan ke bawah yang cukup bulan. Pembedaan ini dimaksudkan untuk menyesuaikan kondisi bayi yang daya serapnya terhadap nutrien masih belum optimal, terutama ginjalnya.

Adapun susu formula untuk bayi di bawah 6 bulan secara umum digolongkan menjadi dua:
1. Formula adaptasi
Susu formula jenis ini mempunyai kandungan sebagai berikut:
* Lemak
Disarankan mempunyai kadar lemak antara 2,7-41 g setiap 100 ml atau setara 8,5%. Dari jumlah ini, 3-6% kandungan energinya harus terdiri dari asam linoleik.

* Protein
Kadarnya harus berkisar antara 1,2 sampai 1,9 g/100 ml, dengan rasio lakalbumin/kasein kurang lebih 60/40. Karena itu komposisi asam aminonya harus identik dengan protein yang terdapat dalam ASI. Alasannya, hanya protein itulah yang bisa dimanfaatkan bayi.

* Karbohidrat
Disarankan kandunganya antara 5,4 sampai 8,2 g bagi tiap 100 ml. Karbohidratnya dianjurkan terdiri atas laktosa dan selebihnya glukosa atau dekstrin-maltosa. Dalam hal ini tidak dibenarkan menggunakan sumber karbohidrat dari tepung, madu, atau susu yang diasamkan.

* Mineral
Sebagian besar mineral dalam susu sapi adalah natrium, kalium, kalsium, fosfor, magnesium dan klorida. Karena itu komposisinya harus diturunkan sekitar 0,25 sampai 0,34 g tiap 100 ml. Ini dimaksudkan untuk menghindari gangguan keseimbangan air dan dehidrasi hipertonik, selain timbulnya gangguan hipertensi di kemudian hari.

* Vitamin
Harus ditambahkan pada pembuatan susu formula.

* Energi
Harus disesuaikan dengan ASI yang jumlahnya sekitar 72 Kkal.

2. Formula awal lengkap

Sesuai namanya, susu ini memiliki susunan gizi yang lengkap untuk bayi baru lahir. Sekalipun demikian, susu ini sedikit berbeda dari formula adaptasi. Susu formula ini mempunyai kadar protein tinggi karena rasio proteinnya tidak disesuaikan dengan rasio protein yang terkandung dalam ASI. Begitu juga dengan mineral yang lebih tinggi dari susu formula adaptasi. Keuntungan susu formula jenis ini adalah harganya yang jauh lebih murah daripada susu formula adaptasi.

Susu formula untuk bayi 6 bulan ke atas mengandung protein yang lebih tinggi dari susu adaptasi maupun susu awal lengkap. Rasio proteinnya pun tidak mengikuti rasio yang terdapat dalam ASI. Sedangkan kadar beberapa mineral, karbohidrat, lemak dan energinya lebih tinggi. Ini dimaksudkan untuk mengimbangi kebutuhan anak yang sudah semakin aktif dan sedemikian cepat tumbuh kembangnya.

Perbedaan paling nyata dalam kebutuhan zat gizi bayi 6 bulan ke bawah dan 6 bulan ke atas adalah kalorinya. Kalori yang dibutuhkan bayi usia 6 bulan ke bawah per hari hanya sebesar 560 kkl atau lebih, sedangkan bayi usia 6 bulan ke atas adalah 800 kkl per hari atau lebih.

* Kandungan Zat Tambahan
Kemajuan teknologi memungkinkan susu formula yang sudah ada ditingkatkan kualitasnya, yakni dengan diformulasikan sedemikian rupa sehingga makin mirip dengan ASI. Salah satunya adalah penambahan DHA. Penambahan ini dibolehkan karena zat tambahan tersebut merupakan zat-zat mikro. Hanya saja penambahannya pun harus mengikuti standar yang berlaku. Yang tak kalah penting, orang tua harus segera memastikan cocok atau tidaknya si bayi mendapat susu tersebut. Bila ternyata tidak cocok, ya jangan dipaksakan. Asal tahu saja, DHA yang berasal dari ikan berpotensi menyebabkan alergi. Belakangan beberapa produsen susu menggunakan DHA/AA yang bersumber dari bahan nonikan.

* Porsi Pemberian
Banyaknya susu formula yang diberikan kepada bayi tentu saja tergantung pada kebutuhan. Umumnya sampai berusia 3 atau 4 bulan, bayi mendapat susu sekitar 180 ml yang diberikan setiap 2-3 jam. Meski begitu, prinsip on demand juga berlaku dalam pemberian susu formula. Begitu bayi menangis karena lapar meski mungkin belum waktunya, maka berikan saja sesuai keinginannya.

Sementara susu formula lanjutan untuk bayi 6 bulan ke atas bisa diberikan 2 kali sehari masing-masing sebanyak 180-200 ml. Lo, mengapa cuma 2 kali? Di usia ini bayi sudah mendapat makanan setengah padat (bubur susu, nasi tim yang disaring, dan seterusnya). Untuk jadwalnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan individual si bayi.
Usahakan minum susu tidak berbarengan atau berdekatan dengan waktu makan utama. Selain membuat anak jadi enggan makan karena sudah kenyang duluan, penyerapan kalsium pun jadi terganggu. Tenggang waktu ideal minum susu adalah 2-3 jam sebelum atau sesudah waktu makan makanan utama

Dedeh Kurniasih/Gazali Solahuddin. Foto: Iman/nakita
Konsultan Ahli: dr. H. Adi Tagor, Sp.A, DPH dari RS Pondok Indah, Jakarta; Dr. Eva J. Soelaeman, Sp.A(K) dari RSAB Harapan Kita, Jakarta

Source : http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah06305-02.htm